aleppo


aleppo

pagi ini di koran, di layar tv, di radio, jeritan anak-anak Aleppo terasa kian menyayat,ketika burung pemakan bangkai siap menyergap tubuh-tubuh mungil yang terkapar diantara desing peluru, dentaman meriam dan puing-puing rumah mereka yang ambruk di bom…

nanar tatapku menyusur layar media sosial, orang-orang berbagi gambar, kisah dan teriakan ‘selamatkan Aleppo’

aku tergugu…

jiwa-jiwa murni, anak-anak malaikat, belum lagi menikmati dunia kanak-kanak mereka yang murni, terampas beringas ketamakan orang dewasa, predator kemanusiaan, memangsa tak pandang bulu..

aku terpana…

betapa manusia dewasa memang iblis yang mewujud dalam rupa-rupa wajah, mengambil hak tuhan, merenggut nyawa, menghancurkan jiwa, membakar nilai insaniah…

merebut boneka, taman bermain bahkan kamar tidur dengan paksa, anak-anak Aleppo yang dipaksa pergi dari halaman mimpi sendiri…

tapi…bersabarlah bocah-bocah…janji Tuhanmu tak pernah sesat…kau akan merdeka di sana.. terbanglah menuju sang pemilikmu…darah merah, airmata dan luka sayatan itu akan berganti pelukan hangat tangan Ilahiahmu….

bersabarlah…

bergembiralah…

Gong Perdamaian Dunia, Ambon, Desember 2016

 

44


Perjalanan sudah kutempuh sejauh timur dan barat

langkah kuayun teramat jauh

waktu terbuang tanpa mampu kucegah

dosa tak terkira banyaknya

dan aku masih di sini

di titik nol

nyaris minus

tak ada jalan kembali

jika aku tak mulai mengayunkan kaki ke arah yang benar…

pergi menuju sang pemilik hidup.

tanpa bekal apapun…

menunggu apa lagi

waktuku tak lama lagi

bergegaslah…

benahi diri…

 

Malam di Patpong


Ceritaku kali ini tentang perjalanan ke Bangkok, 25-27 Juli 2016. Malam masih muda ketika akhirnya beta tiba di Hotel Anantara Siam Bangkok di jalan Rajadamri. Hotel bintang 5 ini akan jadi tempatku mengikuti training media selama dua hari yang diselenggarakan International Finance Corporation (IFC).

Sejak keluar dari Suvarnabhumi Airport, lapar minta ampun. Meski di Garuda yang membawaku selama tiga jam dari Soeta, sudah pasti ada makanan. Tapi begitulah, lapar tetap lapar apalagi setelah memikul tas yang berisi laptop dan kamera.

Beta berpikir harus cari makanan, tapi dimana di pukul 11 malam ini ? makanan hotel jangan ditanya pasti mahal. Setelah bertanya pada resepsionis, ia menyarankan ke Patpong Night Market yang hanya berjarak sekitar tiga km dari hotelku.

Dengan menumpang taksi, beta dan dua kawan menuju Patpong Night Market. Ada semacam de ja vu mendengar nama pasar malam ini. Ingat lagu Oppie Andaresta entah judul yang mana, ada lirik yang dia sebut soal Patpong.

Lantas tiba di Patpong, si driver tiba-tiba menyebut angka fantastis di argo meternya 540 bath, dan beta seketika berteriak what ?! are you crazy ? karena dari awal kami bertiga sudah curiga. si driver menutup argo dengan saputangan dan tiba-tiba ia menyebut angka fantastis itu, padahal kawan beta sempat menyebut angka argonya 35 bath ketika kami naik dari hotel.

Tentu saja beta marah, tak peduli ini kampung orang beta memaksanya mengaku bahwa itu bukan angka sebenarnya. Mungkin karena takut dan merasa bersalah, ia kemudian menurunkan harga sampai 250 bath. Jelas beta tak terima, beta meninggalkan 100 bath di tangannya meski seharusnya beta hanya membayar tak sampai 50 bath.

Pengalaman buruk pertama di Patpong.

Kami turun dari taksi dengan marah. Tapi lantas cepat kembali menormalkan perasaan, melihat keseruan yang akan kami alami. Patpong memiliki luas yang cukup besar berada di kawasan Sela Daeng, pusat pertokoan, kami menyisir pasar malam yang dipenuhi turis bule. Sepanjang jalan yang dipasangi tenda terdapat ratusan kios,  segala macam dijual disana. Beta mengecek harga kaos dari ujung ke ujung,  untuk memastikan tidak kena tipu lagi, dan untung saja karena lapar ingin mencari makanan, kami tidak berhenti lama di kios-kios ini.

Kami memutar jalan dari gang tenda yang sengaja dibangun itu, kami temukan jalan sepi yang tidak dilewati kendaraan. Agak aneh karena jalan ini sangat luas. betapa beta terpana, pun sedikit norak menahan nafas, melihat begitu banyak perempuan muda  putih, seksi, setengah telanjang di sepanjang jalan ini, dikiri kanan, perempuan-perempuan cantik ini, duduk berjejer dan para pria memegang kertas dan melambai-lambaikan ke arah pejalan kaki.

Tapi, sepertinya mata kami tertipu. Perempuan-peremppuan muda cantik seksi ini bukan sejatinya perempuan meski secara fisik luar begitu terlihat lebih cantik dari perempuan sebenarnya. Mereka adalah ladyboy atau boygirl. Lelaki yang menyaru jadi perempuan, jika anda perhatikan dengan seksama, akan terlihat jakun yang menonjol di leher perempuan seksi yang mulus itu.

Kami tiba disebuah kios makanan yang menjual ayam hainan. karena sadar lapar tak lagi bisa tertahan. kami memilih makan di tempat itu. apa adanya. entah halal atau tidak. terima saja. bismilah saja.

hilang


(image google)

Lelaki paruh baya itu, berjalan santai, penampilannya rapi, meski fisiknya kurus saja. Sesekali kepalanya tertunduk, menarik nafas namun tetap melangkah, wajahnya datar, lengan kirinya digandeng seorang polisi, tangannya diborgol ke belakang. Ia tak mengelak atau berusaha menunduk atau menghindar dari bidikan kamera para pewarta. Polres Ambon sangat terik padahal matahari masih pukul 10.00.

Lelaki paruh baya itu, kepala sekolah dasar di Waiputih, Maluku Tengah, datang sendiri menghantar dirinya ke Polres Ambon, meski sempat kabur, ” saya takut jadi saya datang saja, dari pada lari” kata RU. Tak jelas raut wajahnya melukiskan apa, begitu datar.

Tak dinyana, lelaki paruh baya itu, sudah melakukan hal keji. Ia dituduh telah mencabuli siswanya sendiri, seorang anak perempuan berusia 10 tahun. Wajahnya masih datar ketika polisi menghujani pertanyaan padanya, ia terus mengelak.” Ah, saya hanya memegang kemaluannya saja, tidak lakukan apapun,”elaknya tanpa berani melihat wajah polisi.

Tapi anak manis yang polos itu mengaku lain pada sang nenek dan polisi, ” Pak guru, melakukan hal aneh pada saya di kamar mandi, saya tidak berani teriak karena dia mengancam mau bunuh saya.”

Pengakuan polos ini,  sang nenek terima ketika si cucu menolak pergi ke sekolah, meski dipaksa harus sekolah. Ia masih saja membangkang, tak biasanya begini, pikir si nenek. Tak puas, si nenek terus mencecar pertanyaan dan memaksa si cucu berani cerita padanya. Si nenek kaget dan syok ketika mendengar pengakuan cucunya yang baru berusia 10 tahun itu.

Si cucu mengaku, sepekan yang lalu orang yang ia kenal sebagai pak guru itu, menyeretnya ke kamar mandi sekolah dan melampiaskan nafsu bejatnya. Dia tak berani teriak hanya menahan kesakitan. Pak guru lantas mengancam akan mengeluarkannya dari sekolah atau membunuhnya jika ia berani cerita pada orang-orang.

Gadis manis yang bahkan belum mengalami menstruasi itu, gemetar ketakutan ketika ditinggalkan begitu saja. Ia tahu sesuatu telah direnggut darinya, sesuatu telah hilang dari tubuhnya yang mungil.

Di Polres, sore itu, kali kedua si kakek dan si nenek menemani cucunya yang dimintai keterangan oleh polisi. Seorang wartawan tv yang tengah meliput di Polres, didatangi tergesa-gesa oleh si kakek, nyaris memeluk, si kakek berbisik,” terimakasih-terimakasih, karena wartawan pelakunya sudah djadikan tersangka, terimakasih jika tak ada kalian, entah bagaimana nasib kami.” Lirih ia berbisik di telinga wartawan itu.

 

 

 

DEFAMASI, JANGAN PENJARAKAN JURNALIS


Kampanye ‘’don’t jail journalists’’ ini sudah dilakukan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia dan International Federation of Journalists yang berbasis di Sidney, Austarlia sejak Agustus 2004 lalu, bertepatan dengan kasus Tommy Winata vs Bambang Harymurti saat itu Pemimpin Redaksi Majalah Tempo. Kampanye ini merupakan perjalanan panjang memperjuangkan hak hukum jurnalis Indonesia untuk menggunakan Undang Undang Pers no 40 tahun 1999 dari pada menggunakan KUHP yang memperlakukan tindakan jurnalis sebagai tindak kriminal dari pada dianggap sebagai lex speacialis. Continue reading

KILLING THE MESSENGER


Sejak 10 tahun terakhir, kurang lebih 1400 jurnalis di seluruh dunia terbunuh saat melakukan peliputan, kematian datang tidak hanya pada jurnalis laki – laki namun juga perempuan..

Kebanyakan kematian datang saat meliput di medan perang atau bencana alam, sebagian lain tewas di negerinya sendiri karena meliput korupsi atau criminal. Bahkan ada yang ditangkap, diculik, disekap dan dihilangkan karena meliput politik. Continue reading

KONGRES PEREMPUAN MALUKU I, SEBUAH JALAN MEREPARASI PEREMPUAN MALUKU ?


Banyak laki-laki berlarian di jalan, salah satu kawasan di Kota Ambon 27 Juli 2000, mereka mencegat siapa saja yang ditemui di jalan, dengan parang terhunus yang diujungnya ada tetes darah. Seorang perempuan melintas ketakutan, dengan ancaman parang terhunus yang ada sisa tetes darahnya, satu pertanyaan yang tak bisa dijawab diakhiri dengan nyawa melayang diujung parang yang ada sisa tetes darahnya. Mayat perempuan dilego begitu saja ke dalam got.

Saya menyaksikan itu, hampir 9 tahun lalu. Dalam ketakutan tentu saja. Di kiri kanan saya, anak dan perempuan mengalami nasib yang sama. Ada yang beruntung tidak sampai tewas, namun yang tersisa adalah trauma.

Seorang kawan saya di Aceh bercerita dalam perasaan traumatic yang juga masih tersisa, Saat DOM (Daerah Operasi Militer) berlangsung, dengan alasan ayah dan kakak lelakinya pengikut GAM, mereka dibunuh di depan mata, ibunya diperkosa di depan mata lalu di bunuh. Giliran dia yang digilir tak habis-habisnya oleh banyak lelaki berpostur tegap. Dia menyimpannya hingga kini meski sempat sinting karenanya.

Kawan lain saya di Papua, jurnalis juga, bercerita, dalam satu suku, seorang lelaki yang memiliki banyak babi (symbol kemakmuran orang Papua), bisa menikahi banyak perempuan dan semua hidup dalam satu atap, menjadi pelayan bagi para lelaki. Perempuan adalah warga kelas dua yang tidak memiliki hak apa-apa. Mereka bahkan harus bekerja keras menghidupi diri sendiri meski punya suami.

Lalu perempuan di Aceh, merancang Kongres Perempuan Aceh. Mereka bersatu, berteriak menyampaikan kepenatannya, hasilnya perempuan Aceh bisa berbuat lebih jauh, mereka ada dibanyak partai dan diberi peluang seluas-luasnya, mereka mereparasi diri sendiri dari trauma yang panjang.

Begitu juga di Papua, Kongres Perempuan Papua, menghasilkan rekomendasi yang luar biasa, seorang perempuan berhasil duduk sebagai wakil ketua persatuan gereja se Papua, yang selama ini sulit diduduki perempuan.

Lalu apa yang ingin dilakukan perempuan Maluku dalam kongresnya. Sebuah pertanyaan muncul di benak banyak perempuan Maluku. Saya mewawancarai sebagian diantaranya secara acak. Dari kalangan politisi mengungkap, ada keinginan untuk mencapai kata sepakat, perempuan harus berkomitmen bersama memenuhi kuota 30 persen dan perempuan harus memilih perempuan, dengan begitu posisi tawar perempuan di kancah politik bisa lebih diperhitungkan. Sebab jelas pemilih perempuan lebih banyak dari laki-laki.

Continue reading