Kereta yang Membawaku ke Surabaya


peron stasiun kereta Jakarta Kota

Peron Stasiun Jakarta Kota menuju Stasiun Turi Surabaya, menanti kereta datang – 25 Januari 2017

Sejak pertama kali naik kereta 1996. Aku sudah jatuh cinta pada kereta. Bisa duduk berjam-jam di kereta, memandangi alam dari balik jendelanya yang besar-besar. Kereta melintasi banyak kota dan desa. Perjalanan siang memang selalu menyenangkan karena bisa melamun menatap sawah, pohon, gunung, bukit dari balik jendela kereta yang melesat cepat.

Namun kali ini Jakarta-Surabaya harus kutempuh 11 jam perjalanan diwaktu malam. pemandangan dari balik jendela hanyalah kelap-kelip lampu dan kegelapan malam. Aku memilih membaca buku hingga tertidur. Kereta yang kutumpangi memasuk Stasiun Turi Surabaya tepat pukul 02.30 dini hari. Kereta yang membawaku dari Jakarta disambut hiruk pikuk di peron yang dipenuhi penumpang menuju tujuan berikut kereta itu. Aku bergegas menarik backpack dan messenger bagku menuju pintu keluar. Kereta penuh. ini musim holiday. Imlek, dan Surabaya adalah destinasi tersibuk warga keturunan Tionghoa yang memang melimpah di Surabaya, juga mereka yang ingin menikmati weekend, libur panjang Imlek.

Keluar dari stasiun aku menemukan seorang bapak yang terkantuk-kantuk di sadel motornya. Namun wajahnya seketika cerah  dan kantuk melenyap melihat langkahku mendekatinya. Ke hotel terdekat dan bersih ya pak. Hotel Cityhub ya, katanya, dekat kog dari sini. Aku mengangguk setuju. Ojek motor itu melesat menyusuri jalanan Surabaya yang lengang.

Cityhub memang bersih dan minimalis. Aku suka. Harganya juga standart. 400 ribuan. Aku memang harus ke hotel. Meski, kawanku menyarankan ke basecamp AJI Kota Surabaya untuk mengasoh sebelum menuju tujuan berikutnya. Rugi ke hotel non, katanya pada malam sebelumnya ketika aku mengabarinya akan berkunjung ke kota ini. Aku hanya mengiyakan namun, tetap saja tak kupenuhi permintaanya. Tak enak saja harus mencari alamat di tengah malam buta dan membangunkan dan merepot penghuni rumah atas kedatanganku.

Setelah mandi meski lapar, aku memilih tidur. Sebab besok adalah waktu panjang menuju tujuanku. Panggilan alam yang tak mampu kutolak. (to be continued)

Advertisements

Ranupani, Ranu Regulo dan Bromo


25 Januari 2017

antara Bromo dan Semeru

Kabut menyelimuti pertigaan menuju Semeru, Bromo dan Kota Malang…

Pergi adalah cara melupakan rutinitas. Setelah mengikuti serangkaian rapat kerja Kepala Biro se-Indonesia. Aku pikir aku butuh back off sejenak. Menarik diri. Jadilah aku naik kereta menuju Surabaya. Sore itu dari Stasiun Jakarta Kota aku naik KA Gumarang 77 menuju Stasiun Pasar Turi Surabaya aku hanya perlu membayar 465 ribu, aku berangkat pukul 15.30. dan tiba pukul 02. 18 WIB.

Nyaris saja aku tak bisa menuju Surabaya, karena terlambat tiba di Gambir dan semua kereta penuh. Atas saran seorang satpam di stasiun Gambir agar aku bergegas ke Stasiun Jakarta Kota. Menggunakan Gojek, aku melesat menembus belantara Jakarta yang macet. Beruntung, aku berhasil menemukan satu sit yang tersisa. Meski dengan daya juang, berlari mencari loket dan mengantri.

Duduk di peron stasiun kereta ini, pikiranku melayang ke 20 tahun lewat. Pertama kali ke Jogja, pertama kali naik  kereta api. Pertama kali menjelajah pulau Jawa. Ibu negeri bapakku.

Peron dipenuhi manusia. Aku lupa, ini weekend dan Imlek holiday. Terjawab sudah tanyaku mengapa tiket kereta semua jurusan  di Gambir ludes. (to be continued)

aleppo


aleppo

pagi ini di koran, di layar tv, di radio, jeritan anak-anak Aleppo terasa kian menyayat,ketika burung pemakan bangkai siap menyergap tubuh-tubuh mungil yang terkapar diantara desing peluru, dentaman meriam dan puing-puing rumah mereka yang ambruk di bom…

nanar tatapku menyusur layar media sosial, orang-orang berbagi gambar, kisah dan teriakan ‘selamatkan Aleppo’

aku tergugu…

jiwa-jiwa murni, anak-anak malaikat, belum lagi menikmati dunia kanak-kanak mereka yang murni, terampas beringas ketamakan orang dewasa, predator kemanusiaan, memangsa tak pandang bulu..

aku terpana…

betapa manusia dewasa memang iblis yang mewujud dalam rupa-rupa wajah, mengambil hak tuhan, merenggut nyawa, menghancurkan jiwa, membakar nilai insaniah…

merebut boneka, taman bermain bahkan kamar tidur dengan paksa, anak-anak Aleppo yang dipaksa pergi dari halaman mimpi sendiri…

tapi…bersabarlah bocah-bocah…janji Tuhanmu tak pernah sesat…kau akan merdeka di sana.. terbanglah menuju sang pemilikmu…darah merah, airmata dan luka sayatan itu akan berganti pelukan hangat tangan Ilahiahmu….

bersabarlah…

bergembiralah…

Gong Perdamaian Dunia, Ambon, Desember 2016

 

44


Perjalanan sudah kutempuh sejauh timur dan barat

langkah kuayun teramat jauh

waktu terbuang tanpa mampu kucegah

dosa tak terkira banyaknya

dan aku masih di sini

di titik nol

nyaris minus

tak ada jalan kembali

jika aku tak mulai mengayunkan kaki ke arah yang benar…

pergi menuju sang pemilik hidup.

tanpa bekal apapun…

menunggu apa lagi

waktuku tak lama lagi

bergegaslah…

benahi diri…

 

Malam di Patpong


Ceritaku kali ini tentang perjalanan ke Bangkok, 25-27 Juli 2016. Malam masih muda ketika akhirnya beta tiba di Hotel Anantara Siam Bangkok di jalan Rajadamri. Hotel bintang 5 ini akan jadi tempatku mengikuti training media selama dua hari yang diselenggarakan International Finance Corporation (IFC).

Sejak keluar dari Suvarnabhumi Airport, lapar minta ampun. Meski di Garuda yang membawaku selama tiga jam dari Soeta, sudah pasti ada makanan. Tapi begitulah, lapar tetap lapar apalagi setelah memikul tas yang berisi laptop dan kamera.

Beta berpikir harus cari makanan, tapi dimana di pukul 11 malam ini ? makanan hotel jangan ditanya pasti mahal. Setelah bertanya pada resepsionis, ia menyarankan ke Patpong Night Market yang hanya berjarak sekitar tiga km dari hotelku.

Dengan menumpang taksi, beta dan dua kawan menuju Patpong Night Market. Ada semacam de ja vu mendengar nama pasar malam ini. Ingat lagu Oppie Andaresta entah judul yang mana, ada lirik yang dia sebut soal Patpong.

Lantas tiba di Patpong, si driver tiba-tiba menyebut angka fantastis di argo meternya 540 bath, dan beta seketika berteriak what ?! are you crazy ? karena dari awal kami bertiga sudah curiga. si driver menutup argo dengan saputangan dan tiba-tiba ia menyebut angka fantastis itu, padahal kawan beta sempat menyebut angka argonya 35 bath ketika kami naik dari hotel.

Tentu saja beta marah, tak peduli ini kampung orang beta memaksanya mengaku bahwa itu bukan angka sebenarnya. Mungkin karena takut dan merasa bersalah, ia kemudian menurunkan harga sampai 250 bath. Jelas beta tak terima, beta meninggalkan 100 bath di tangannya meski seharusnya beta hanya membayar tak sampai 50 bath.

Pengalaman buruk pertama di Patpong.

Kami turun dari taksi dengan marah. Tapi lantas cepat kembali menormalkan perasaan, melihat keseruan yang akan kami alami. Patpong memiliki luas yang cukup besar berada di kawasan Sela Daeng, pusat pertokoan, kami menyisir pasar malam yang dipenuhi turis bule. Sepanjang jalan yang dipasangi tenda terdapat ratusan kios,  segala macam dijual disana. Beta mengecek harga kaos dari ujung ke ujung,  untuk memastikan tidak kena tipu lagi, dan untung saja karena lapar ingin mencari makanan, kami tidak berhenti lama di kios-kios ini.

Kami memutar jalan dari gang tenda yang sengaja dibangun itu, kami temukan jalan sepi yang tidak dilewati kendaraan. Agak aneh karena jalan ini sangat luas. betapa beta terpana, pun sedikit norak menahan nafas, melihat begitu banyak perempuan muda  putih, seksi, setengah telanjang di sepanjang jalan ini, dikiri kanan, perempuan-perempuan cantik ini, duduk berjejer dan para pria memegang kertas dan melambai-lambaikan ke arah pejalan kaki.

Tapi, sepertinya mata kami tertipu. Perempuan-peremppuan muda cantik seksi ini bukan sejatinya perempuan meski secara fisik luar begitu terlihat lebih cantik dari perempuan sebenarnya. Mereka adalah ladyboy atau boygirl. Lelaki yang menyaru jadi perempuan, jika anda perhatikan dengan seksama, akan terlihat jakun yang menonjol di leher perempuan seksi yang mulus itu.

Kami tiba disebuah kios makanan yang menjual ayam hainan. karena sadar lapar tak lagi bisa tertahan. kami memilih makan di tempat itu. apa adanya. entah halal atau tidak. terima saja. bismilah saja.

hilang


(image google)

Lelaki paruh baya itu, berjalan santai, penampilannya rapi, meski fisiknya kurus saja. Sesekali kepalanya tertunduk, menarik nafas namun tetap melangkah, wajahnya datar, lengan kirinya digandeng seorang polisi, tangannya diborgol ke belakang. Ia tak mengelak atau berusaha menunduk atau menghindar dari bidikan kamera para pewarta. Polres Ambon sangat terik padahal matahari masih pukul 10.00.

Lelaki paruh baya itu, kepala sekolah dasar di Waiputih, Maluku Tengah, datang sendiri menghantar dirinya ke Polres Ambon, meski sempat kabur, ” saya takut jadi saya datang saja, dari pada lari” kata RU. Tak jelas raut wajahnya melukiskan apa, begitu datar.

Tak dinyana, lelaki paruh baya itu, sudah melakukan hal keji. Ia dituduh telah mencabuli siswanya sendiri, seorang anak perempuan berusia 10 tahun. Wajahnya masih datar ketika polisi menghujani pertanyaan padanya, ia terus mengelak.” Ah, saya hanya memegang kemaluannya saja, tidak lakukan apapun,”elaknya tanpa berani melihat wajah polisi.

Tapi anak manis yang polos itu mengaku lain pada sang nenek dan polisi, ” Pak guru, melakukan hal aneh pada saya di kamar mandi, saya tidak berani teriak karena dia mengancam mau bunuh saya.”

Pengakuan polos ini,  sang nenek terima ketika si cucu menolak pergi ke sekolah, meski dipaksa harus sekolah. Ia masih saja membangkang, tak biasanya begini, pikir si nenek. Tak puas, si nenek terus mencecar pertanyaan dan memaksa si cucu berani cerita padanya. Si nenek kaget dan syok ketika mendengar pengakuan cucunya yang baru berusia 10 tahun itu.

Si cucu mengaku, sepekan yang lalu orang yang ia kenal sebagai pak guru itu, menyeretnya ke kamar mandi sekolah dan melampiaskan nafsu bejatnya. Dia tak berani teriak hanya menahan kesakitan. Pak guru lantas mengancam akan mengeluarkannya dari sekolah atau membunuhnya jika ia berani cerita pada orang-orang.

Gadis manis yang bahkan belum mengalami menstruasi itu, gemetar ketakutan ketika ditinggalkan begitu saja. Ia tahu sesuatu telah direnggut darinya, sesuatu telah hilang dari tubuhnya yang mungil.

Di Polres, sore itu, kali kedua si kakek dan si nenek menemani cucunya yang dimintai keterangan oleh polisi. Seorang wartawan tv yang tengah meliput di Polres, didatangi tergesa-gesa oleh si kakek, nyaris memeluk, si kakek berbisik,” terimakasih-terimakasih, karena wartawan pelakunya sudah djadikan tersangka, terimakasih jika tak ada kalian, entah bagaimana nasib kami.” Lirih ia berbisik di telinga wartawan itu.

 

 

 

DEFAMASI, JANGAN PENJARAKAN JURNALIS


Kampanye ‘’don’t jail journalists’’ ini sudah dilakukan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia dan International Federation of Journalists yang berbasis di Sidney, Austarlia sejak Agustus 2004 lalu, bertepatan dengan kasus Tommy Winata vs Bambang Harymurti saat itu Pemimpin Redaksi Majalah Tempo. Kampanye ini merupakan perjalanan panjang memperjuangkan hak hukum jurnalis Indonesia untuk menggunakan Undang Undang Pers no 40 tahun 1999 dari pada menggunakan KUHP yang memperlakukan tindakan jurnalis sebagai tindak kriminal dari pada dianggap sebagai lex speacialis. Continue reading