Feeds:
Posts
Comments

mungkin aku bukan pria seperti yang kamu impikan. tapi sungguh aku akan berusaha apa yang mengikat diriku padamu. jika ini tak kupercayai sebagai jalan akhir. kamu harus yakinkan dirimu, aku akan mampu seperti  kamu idamkan. aku pelayan, apapun inginmu kemuliaan bagiku.

umpama aku pencundang, maka tak kulawan  apa yang kurasa punah. tak satupun alasan, untukku ingkar pada janji.

aku menulis ini dalam jiwa yang parau.tak terpikir olehku meninggalkan sakit larut dalam gejolak batiniah

hingga akhir akan ku jaga. sampai waktunya nanti kita akan bersama. MS

(wahid hasyim, medan, 10/04/12, dalam tumpahan airmatamu di wajahku yang tak sadarkan diri)

Yasmin, aku salut !


senang mendapat kiriman email berita ini, nice story, jika semua perempuan Indonesia punya concern yang sama dan bertindak sama seperti Yasmin, suara perempuan bersatu akan lebih dahsyat untuk membuat perubahan di negeri ini, sebab benar kata Yasmin, selalu dampaknya perempuan yang lebih merasakan ! Yasmin, aku salut !

Protes BBM, Ibu Rumah Tangga Dorong Motor
Oleh: Maimun Saleh

Yasmin Shabri, seorang ibu rumah asal Komplek Perumahan Ajun Lam Hasan, Jln. Dahlia No.102, Aceh Besar, berunjuk rasa tunggal dengan mendorong sepeda motor sepanjang lima kilometer sebagai protes rencana pemerintah menaikkan Bahan Bakar Minyak (BBM), Kamis (29/3/2012).

Dalam aksinya Yasmin memakai panci di kepala sebagai penganti helm, mengantungkan wajan di bahu, jeregen di sepeda motor, dan goni bertuliskan beras. Ia mengikat poster bertuliskan, “harga BBM naik harga diri pemerintah turun.”

Disepanjang jalan, ibu beranak tiga ini tidak bicara sepatah katapun. Ia menutup mulutnya dengan masker. Aksi damai yang dilakukan Yasmin menarik perhatian dan simpati pengguna jalan. Bahkan ada warga yang turun dari mobil untuk mengambil foto dengan handphone.

Salah seorang polisi lalu lintas sempat menanyakan surat izin berunjukrasa saat melintas di ruas jalan Teuku Umar, Banda Aceh. “Saya hanya menyampaikan aspirasi pak,” jawabya. Lalu polisi bersimpati, mengawal dan mengamankan jalan untuk Yasmin hingga tujuan akhirnya bundaran Simpang Lima.

Yasmin sempat singgah di POM bensin di kawasan Simpang Tiga, Banda Aceh. Ia membagikan selebaran yang berisi puisi berjudul “Sepercik Marah,” karyanya sendiri pada warga yang mengisi bensin.

Menurut Yasmin, kenaikan BBM berdampak buruk bagi masyarakat Indonesia. “Kalau BBM naik, semua harga naik. Anak-anak bisa terkena gizi buruk, kebutuhan dapur naik, perempuan kelompok yang paling dirugikan,” ujarnya. “Saya kecewa pada pemerintah.”

MARIA ULFAH, PE…


MARIA ULFAH, PEMBELA KAUM PEREMPUAN
Berita Lainnya
JELANG KTT ASEAN, KAMBOJA TINGKATKAN KEAMANAN
SEMBILAN KILOMETER ANTREAN TRUK DI MERAK
Nasional
BONTANG TERBAIK KEENAM PELAYANAN..
PRAKIRAAN: GELOMBANG PERAIRAN..
   
 

JANGAN sekali-kali melupakan sejarah. Itulah peringatan Proklamator dan Presiden I kita, Ir Soekarno, dan menjadi salah satu judul pidatonya yang kemudian disingkat oleh mahasiswa menjadi “Jas Merah”. Banyak masalah yang kita hadapi sekarang, banyak bersumber, karena kita melupakan sejarah seperti keberagaman.Hari ini (21/4/2011), bangsa kita mengenang perjuangan Raden Ajeng Kartini. Bukan untuk bernostalgia ke masa lalu, tetapi bagaimana masa lalu itu memberikan inspirasi ke masa sekarang. RA Kartini telah menjadi sumber inspirasi bagi perempuan Indonesia untuk ikut berjuang mewujudkan Indonesia merdeka dan kemudian mengisi kemerdekaan. Atas jasanya, bangsa kita memperingati Hari Kartini setiap tahun, yang jatuh pada 21 April.Kartini-Kartini baru terus bermunculan. Pada Era Reformasi, muncul seorang perempuan menjadi presiden, yakni Megawati Soekarnoputri. Yang menjadi menteri sudah banyak. Tetapi, siapa perempuan pertama yang menjadi menteri di negara kita? Ia adalah Raden Ayu Mr. Maria Ulfah Soebadio Sastrosatomo.Siapa dia? Maria Ulfah yang lahir di Serang, Banten, pada 18 Agustus 1911 dan kemudian besar di Kuningan, Jawa Barat, adalah putri sulung pasangan Raden Mochammad Achmad dan Chadidjah Djajadiningrat, yakni saudari dari Hoesein dan Achmad Djajadiningrat. Moehammad Achmad adalah bupati Kuningan. Pada 1929, ayahnya berangkat ke negeri Belanda untuk mempelajari koperasi. Itje, begitu nama kecilnya, beserta kedua adiknya, Iwanah dan Hatnan (laki-laki) , ikut serta. Di negeri kincir angin itulah dia memutuskan masuk Fakultas Hukum Universitas Leiden. Padahal, ayahnya menghendakinya menjadi dokter. Apa alasannya memilih studi hukum? Ia ingin membela kaum perempuan yang kedudukannya secara hukum masih sangat lemah. Hal itu diungkapkan pula dalam buku Maria Ulfah Soebadio, Pembela Kaumnya yang ditulis wartawan Gadis Rasid (yang menolak menyebut dirinya wartawati, karena tidak ingin adanya pembedaan gender).Begitulah Maria Ulfah mencatatkan diri sebagai perempuan pertama, menggondol gelar sarjana hukum atau Meester in de Rechten pada 1933. Itu sebabnya, di depan nama perempuan ini tercantum gelar “Mr”. Bergaul dengan Tokoh NasionalSelama di Belanda, dia kerap bertemu dengan tokoh-tokoh nasional. Ia ikut terlibat dalam percakapan ayahnya dengan Haji Agus Salim tentang perkoperasian dan buruh. Muhammad Hatta juga sering hadir di sana. Maria Ulfah juga kemudian berkenalan dengan Sjahrir lewat iparnya Djoehana Wiradikarta. Sjahrir banyak memberikan pengaruh secara ideologis kepadanya. Pulang ke Indonesia, dia sempat bekerja di kantor Kabupaten Cirebon selama beberapa bulan. Ia kemudian mengajar di HBS dan AMS milik Muhammadiyah serta di Perguruan Rakyat. Di sini ia berkenalan dengan kaum pergerakan lainnya, seperti, Wilopo, Sumanang, M. Yamin, Sahardjo dan Amir Sjarifuddin, yang kelak menjadi Perdana Menteri menggantikan Sjahrir. Ia pernah pula memperdalam bahasa Indonesia pada penyair Amir Hamzah.Pada 1938, Maria Ulfah menikah dengan Mr. Sartono. Suaminya yang menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan gugur dalam Agresi Belanda II pada 1948. Setelah menjanda selama 15 tahun, dia menikah lagi dengan Soebadio Sastrosatomo.Menjelang Indonesia merdeka, Maria Ulfah ditunjuk oleh Jepang untuk menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha-usaha Penyelidik Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) atau Dokuritsu Zyunbi Tyoosa Kai oleh Jepang. Perempuan lain yang juga terpilih adalah Raden Nganten Siti Soekaptinah Soenarjo Mangoenpoespito. Badan yang terdiri dari 62 anggota itu dibentuk oleh Jepang. Tugasnya adalah merumuskan dasar negara dan konstitusi Indonesia. Mereka menggelar rapat di Gedung Tyuuoo Sangi-In (sekarang Gedung Pancasila di Kementerian Luar Negeri Pejambon) pada 28 Mei sampai 1 Juni 1945 untuk membahas dasar negara dan 10 – 17 Juli tentang konstitusi. Ia menjadi perempuan pertama yang menjadi menteri setelah Indonesia merdeka. Perdana Menteri Sjahrir mengangkatnya menjadi Menteri Sosial (1946-1947). Setelah itu, berbagai jabatan penting dipercayakan kepadanya. Ia diangkat menjadi Direktur Kabinet Perdana Menteri (1947-1962), Dewan Tinggi pada Sekretariat Negara (1962-1967), dan anggota Dewan Pertimbangan Agung (1968-1973). Selama sebelas tahun (1950-1961), dia menjadi Ketua Badan Sensor Film. Lalu, dia terpilih menjadi Ketua Dewan Film Nasional pada 1970-1973. Ia juga ikut merintis berdirinya Korps Wanita Angkatan Darat (Kowad). Kegiatan lainnya adalah menjadi anggota Pengurus Yayasan TKI (1968), Ketua III Dekopin, dan penasihat Kowani (Kongres Wanita Indonesia). Pemegang Bintang Mahaputra Utama itu, meninggal di Jakarta pada 15 April 1988.Perjuangan Maria Ulfah untuk perempuan Indonesia terasa masih relevan sampai sekarang, apalagi masih banyak masalah yang dihadapi perempuan saat ini. (Willy Hangguman/KlikHeadline – dari berbagai sumber)


 

Image

 

Oleh : Insany syahbarwaty

 

Dalam peringatan Womans Day 8 Maret 2012, konsentrasi kita terfokus pada bagaimana sebenarnya kondisi pekerja perempuan masa kini. Pekerja perempuan lintas sector   termasuk di dalamnya  jurnalis perempuan masih jauh dari sejahtera bahkan keselamatan dan kesehatan kerja bagi perempuan masih terbatas, padahal sudah banyak regulasi yang mengatur tentang  hak pekerja perempuan ini.

Dalam Konferensi Dunia Pertama tentang Perempuan di Meksiko pada  tahun 1975  Indonesia  telah meratifikasi Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Perempuan (Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination Against Women/CEDAW) melalui Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1984.  Pasal 12 UU No. 7/1984   berbunyi:

(1) Negara-negara peserta wajib melakukan langkah tindak lanjut untuk menghapus diskriminasi terhadap perempuan di bidang pemeliharaan kesehatan dan untuk menjamin diperolehnya pelayanan kesehatan.

(2) Negara wajib menjamin bahwa perempuan mendapat pelayanan yang layak berkaitan dengan kehamilan, persalinan dan masa sesudah persalinan dengan memberikan pelayanan gratis serta pemberian makanan bergizi yang cukup selama kehamilan dan masa menyusui.

Hak reproduksi perempuan juga di atur di dalam  Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Dalam  Pasal 76 ayat 2 UU No.13/2003 dengan tegas melarang perusahaan mempekerjakan pekerja perempuan hamil yang menurut keterangan dokter berbahaya bagi kesehatan dan keselamatan kandungannya jika bekerja antara pukul 23.00 hingga 07.00. Bila mempekerjakan perempuan hamil, perusahaan wajib memberikan makanan dan minuman bergizi. Selain itu, perusahaan wajib menyediakan angkutan antar jemput bagi pekerja perempuan yang berangkat dan pulang kerja antara pukul 23.00 hingga 05.00.  

Sementara dalam Pasal 81 UU No. 13/2003 juga menyebutkan bahwa pekerja perempuan yang dalam masa haid merasakan sakit dan memberitahukan kepada perusahaan, tidak wajib bekerja pada hari pertama dan kedua pada waktu haid. Pekerja perempuan juga berhak memperoleh istirahat selama 1,5 bulan sebelum dan 1,5 bulan sesudah melahirkan. Bagi pekerja yang mengalami keguguran kandungan berhak memperoleh istirahat 1,5 bulan atau sesuai surat keterangan dokter.

Adapun Pasal 83 UU No.13/2003 menyatakan bahwa pekerja perempuan yang anaknya masih menyusu harus diberikan kesempatan sepatutnya untuk menyusui anaknya jika hal itu harus dilakukan selama waktu kerja.

Women worker seringkali tidak memahami haknya sebagai perempuan terkait hak kodratinya secara fisik, seperti kondisi pekerja  perempuan pada umumnya, jurnalis perempuanpun berada pada posisi keselamatan dan kesehatannya kerjanya terabaikan oleh perusahaan media dimana dia bekerja apalagi tidak ada regulasi khusus yang bisa menjelaskan posisi jurnalis perempuan ini. Seringkali jurnalis perempuan bekerja di luar jam kerja, tanpa ada upah lembur atau bahkan perlindungan keamanan  seperti mobil  antar jemput, ke lokasi liputan sendirian, mencari narasumber pada malam hari yang bisa mencelakakan secara fisik, pelecehan fisik juga kerap terjadi jika bertugas di lingkungan rawan pelecehan, rawan konflik atau dominasi pekerja lelaki.

Sementara dari sisi kesehatan perempuan mengalami yang namanya siklus haid, hamil dan menyusui, kondisi natural tubuh perempuan ini seringkali menjadi hambatan bagi perempuan dalam lingkungan kerja, apalagi pemilik media tidak menyediakan ruang khusus untuk kebutuhan jurnalis perempuan ini.

Tidak ada cuti haid, cuti hamil dan cuti melahirkan. Belum lagi meski ada asuransi kesehatan yang disediakan perusahaan media , tapi seringkali tidak termasuk kebutuhan soal kesehatan  alat reproduksi ini, asuransi untuk melahirkan misalnya. Asuransi hanya berkaitan dengan kecelakaan kerja.

Karena kondisi ini pula maka seharusnya jurnalis perempuan mendapat perlindungan seperti yang diamanatkan Cedaw, Negara harus membuat regulasi  yang jelas tentang hal ini yang mengikat perusahaan media memberlakukan aturan tersebut.

Ironisnya  Dinas Ketenaga kerjaan juga tidak berperan aktif di dalam menerapkan sanksi bagi perusahaan media yang tidak menerapkan UU no 13 / 2003 dengan benar. Barangkali memang Dinas Tenaga kerja sudah melaksanakan pada berbagai perusahaan di sector lain namun dipastikan hal tersebut tidak berlaku bagi perusahaan media, sebabnya sederhana mungkin sekali jika menegaskan regulasi tersebut akan berhadapan dengan pemberitaan yang bisa jadi menyudutkan.

Hal ini diperparah dengan pemahaman  jurnalis perempuan yang menjadi bagian dari pekerja perempuan pada umumnya tidak menyadari haknya sebagai pekerja perempuan. Jurnalis perempuan seringkali tidak menjadi subjek dalam menentukan kesehatan dan keselamatan kerja seperti jika menulis berita tentang women worker di bidang kerja lain. Padahal, jurnalis perempuan seharusnya memperoleh hak yang sama dengan pekerja perempuan lainnya dari berbagai sector tersebut. Seringkali pula jurnalis perempuan hanya menjadi objek dan tidak mendapatkan kesempatan mengembangkan karir di dalam news room jika tidak mampu bersaing secara intelektual dengan jurnalis pria, meski  jurnalis perempuan mampu namun posisi strategis seperti redaktur pelaksana atau bahkan pimpinan redaksi  tidak  akan diberikan kepada jurnalis perempuan karena  berbagai factor, baik factor fisik maupun psikis.

Olehnya itu, dibutuhkan perbaikan mindset  di kalangan jurnalis perempuan sendiri sebagai pekerja yang harus dilindungi haknya, sebaliknya juga seharusnya Negara bertanggungjawab atas penerapan berbagai regulasi tentang hak pekerja perempuan di berbagai sector. Sehingga hak perempuan seharusnya menjadi prioritas dalam regulasi ketenagakerjaan.

Perusahaan media juga harusnya memahami hak tersebut sebagai hak kodrati dan tidak mengunderistimate pekerja perempuan dalam proses jenjang karir di newsroom. Soal fisik itu kodrati namun  intelektual itu soal memberi  ruang dan kesempatan, dimana seharusnya jurnalis  perempuan menjadi asset yang sama berharganya dengan jurnalis pria.

Soal ini menjadi bahasan sensitive sebab kemudian perempuan banyak yang memilih tidak melanjutkan karir sebagai jurnalis ke posisi yang lebih luas tanggungjawabnya dari hanya sebatas reporter biasa, karena dua hal tadi  kodrati dan ruang dan kesempatan yang terbatas.

UU Nomor 13 / 2003 hanya mengisyaratkan regulasi yang tidak mengatur banyak tentang pekerja perempuan hanya sekitar empat  pasal yang mengatur hal ini. Karena itu  jika dipandang perlu seharusnya  secara spesifik regulasi tentang hak  pekerja perempuan di atur dalam  Peraturan Daerah karena harus disesuaikan dengan kondisi daerah masing-masing. Hal ini tentu harus di dorong semua pihak,  organisasi serikat buruh maupun organisasi  pers dalam hal ini Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Ambon sebaiknya menyusun draft tentang pekerja perempuan dan mengajukan sebagai Rancangan Peraturan Daerah.

(disampaikan dalam diskusi terbatas AJI Ambon peringatan Womensday 8 Maret 2012)


kisahmuallaf.com – Tak banyak orang yang mengenal Aminah Assilmi. Ia adalah Presiden Internasional Union of Muslim Women yang telah meninggal dunia pada 6 Maret 2010, dalam sebuah kecelakaan mobil di Newport, Tennesse, Amerika Serikat.
Perjalanannya menuju Islam cukup unik. Perjalanan yang patut dikenang. Semuanya berawal dari kesalahan kecil sebuah komputer. Mulanya, ia adalah seorang gadis jemaat Southern Baptist–aliran gereja Protestan terbesar di AS, seorang feminis radikal, dan jurnalis penyiaran.
Sewaktu muda, ia bukan gadis yang biasa-biasa saja, tapi cerdas dan unggul di sekolah sehingga mendapatkan beasiswa. Satu hari, sebuah kesalahan komputer terjadi. Siapa sangka, hal itu membawanya kepada misi sebagai seorang Kristen dan mengubah jalan hidupnya secara keseluruhan.
Tahun 1975 untuk pertama kali komputer dipergunakan untuk proses pra-registrasi di kampusnya. Sebenarnya, ia mendaftar ikut sebuah kelas dalam bidang terapi rekreasional, namun komputer mendatanya masuk dalam kelas teater. Kelas tidak bisa dibatalkan, karena sudah terlambat. Membatalkan kelas juga bukan pilihan, karena sebagai penerima beasiswa nilai F berarti bahaya.
Lantas, suaminya menyarankan agar Aminah menghadap dosen untuk mencari alternatif dalam kelas pertunjukan. Dan betapa terkejutnya ia, karena kelas dipenuhi dengan anak-anak Arab dan ‘para penunggang unta’. Tak sanggup, ia pun pulang ke rumah dan memutuskan untuk tidak masuk kelas lagi. Tidak mungkin baginya untuk berada di tengah-tengah orang Arab. ”Tidak mungkin saya duduk di kelas yang penuh dengan orang kafir!” ujarnya kala itu.
3af96f536ca1f 17 1 Aminah Assilmi, Masuk Islam dan Korbankan Segalanya
Suaminya coba menenangkannya dan mengatakan mungkin Tuhan punya suatu rencana dibalik kejadian itu. Selama dua hari Aminah mengurung diri untuk berpikir, hingga akhirnya ia berkesimpulan mungkin itu adalah petunjuk dari Tuhan, agar ia membimbing orang-orang Arab untuk memeluk Kristen. Jadilah ia memiliki misi yang harus ditunaikan. Di kelas ia terus mendiskusikan ajaran Kristen dengan teman-teman Arab-nya.
“Saya memulai dengan mengatakan bahwa mereka akan dibakar di neraka jika tidak menerima Yesus sebagai penyelamat. Mereka sangat sopan, tapi tidak pindah agama. Kemudian saya jelaskan betapa Yesus mencintai dan rela mati di tiang salib untuk menghapus dosa-dosa mereka.”
Tapi ajakannya tidak manjur. Teman-teman di kelasnya tak mau berpaling sehingga ia memutuskan untuk mempelajari alquran untuk menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang salah dan Muhammad bukan seorang nabi. Ia pun melakukan penelitian selama satu setengah tahun dan membaca alquran hingga tamat.
Namun secara tidak sadar, ia perlahan berubah menjadi seseorang yang berbeda, dan suaminya memperhatikan hal itu. ”Saya berubah, sedikit, tapi cukup membuat dirinya terusik. Biasanya kami pergi ke bar tiap Jumat dan Sabtu atau ke pesta. Dan saya tidak lagi mau pergi. Saya menjadi lebih pendiam dan menjauh.”
Melihat perubahan yang terjadi, suaminya menyangka ia selingkuh, karena bagi pria itulah yang membuat seorang wanita berubah. Puncaknya, ia diminta untuk meninggalkan rumah dan tinggal di apartemen yang berbeda. Ia terus mempelajari Islam, sambil tetap menjadi seorang Kristen yang taat.
Hingga akhirnya, hidayah itu datang. Akhirnya pada 21 Mei 1977, jemaat gereja yang taat itu menyatakan, ”Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya.”
Perjalanan setelah mengucapkan dua kalimat syahadat, seperti halnya mualaf lain, bukanlah perkara yang mudah. Aminah kehilangan segala yang dicintainya. Ia kehilangan hampir seluruh temannya, karena dianggap tidak menyenangkan lagi. Ibunya tidak bisa menerima dan berharap itu hanyalah semangat membara yang akan segera padam. Saudara perempuannya yang ahli jiwa mengira ia gila. Ayahnya yang lemah lembut mengokang senjata dan siap untuk membunuhnya.
Tak lama kemudian ia pun mengenakan hijab. Pada hari yang sama ia kehilangan pekerjaannya.
Lengkap sudah. Ia hidup tanpa ayah, ibu, saudara, teman dan pekerjaan. Jika dulu ia hanya hidup terpisah dengan suami, kini perceraian di depan mata. Di pengadilan ia harus membuat keputusan pahit dalam hidupnya; melepaskan Islam dan tidak akan kehilangan hak asuh atas anaknya atau tetap memegang Islam dan harus meninggalkan anak-anak. ”Itu adalah 20 menit yang paling menyakitkan dalam hidup saya,” kenangnya.
Bertambah pedih karena dokter telah memvonisnya tidak akan lagi bisa memiliki anak akibat komplikasi yang dideritanya. ”Saya berdoa melebihi dari yang biasanya. Saya tahu, tidak ada tempat yang lebih aman bagi anak-anak saya daripada berada di tangan Allah. Jika saya mengingkari-Nya, maka di masa depan tidak mungkin bagi saya menunjukkan kepada mereka betapa menakjubkannya berada dekat dengan Allah.” Ia pun memutuskan melepaskan anak-anaknya, sepasang putra-putri kecilnya.
Namun, Allah Maha Pengasih. Ia diberikan anugerah dengan kata-katanya yang indah sehingga membuat banyak orang tersentuh dan perilaku Islami-nya. Dia telah berubah menjadi orang yang berbeda, jauh lebih baik. Begitu baiknya sehingga keluarga, teman dan kerabat yang dulu memusuhinya, perlahan mulai menghargai pilihan hidupnya.
Dalam berbagai kesempatan ia mengirim kartu ucapan untuk mereka, yang ditulisi kalimat-kalimat bijak dari ayat Al-Quran atau hadist, tanpa menyebutkan sumbernya. Beberapa waktu kemudian ia pun menuai benih yang ditanam. Orang pertama yang menerima Islam adalah neneknya yang berusia lebih dari 100 tahun. Tak lama setelah masuk Islam sang nenek pun meninggal dunia.
”Pada hari ia mengucapkan syahadat, seluruh dosanya diampuni, dan amal-amal baiknya tetap dicatat. Sejenak setelah memeluk Islam ia meninggal dunia, saya tahu buku catatan amalnya berat di sisi kebaikan. Itu membuat saya dipenuhi suka cita!”
Selanjutnya yang menerima Islam adalah orang yang dulu ingin membunuhnya, ayah. Keislaman sang ayah mengingatkan dirinya pada kisah Umar bin Khattab. Dua tahun setelah Aminah memeluk Islam, ibunya menelepon dan sangat menghargai keyakinannya yang baru. Dan ia berharap Aminah akan tetap memeluknya.
Beberapa tahun kemudian ibu meneleponnya lagi dan bertanya apa yang harus dilakukan seseorang jika ingin menjadi Muslim. Aminah menjawab bahwa ia harus percaya bahwa hanya ada satu Tuhan dan Muhammad adalah utusan-Nya. ”Kalau itu semua orang bodoh juga tahu. Tapi apa yang harus dilakukannya?” tanya ibunya lagi.
Dikatakan oleh Aminah, bahwa jika ibunya sudah percaya berarti ia sudah Muslim. Ibunya lantas berkata, ”OK, baiklah. Tapi jangan bilang-bilang ayahmu dulu,” pesan ibunya. Ibunya tidak tahu bahwa suaminya (ayah tiri Aminah) telah menjadi Muslim beberapa pekan sebelumnya. Dengan demikian mereka tinggal bersama selama beberapa tahun tanpa saling mengetahui bahwa pasangannya telah memeluk Islam.
Saudara perempuannya yang dulu berjuang memasukkan Aminah ke rumah sakit jiwa, akhirnya memeluk Islam. Putra Aminah beranjak dewasa. Memasuki usia 21 tahun ia menelepon sang ibu dan berkata ingin menjadi muslim.
Enam belas tahun setelah perceraian, mantan suaminya juga memeluk Islam. Katanya, selama enam belas tahun ia mengamati Aminah dan ingin agar putri mereka memeluk agama yang sama seperti ibunya. Pria itu datang menemui dan meminta maaf atas apa yang pernah dilakukannya. Ia adalah pria yang sangat baik dan Aminah telah memaafkannya sejak dulu.
Mungkin hadiah terbesar baginya adalah apa yang ia terima selanjutnya. Aminah menikah dengan orang lain, dan meskipun dokter telah menyatakan ia tidak bisa punya anak lagi, Allah ternyata menganugerahinya seorang putra yang rupawan. Jika Allah berkehendak memberikan rahmat kepada seseorang, maka siapa yang bisa mencegahnya? Maka putranya ia beri nama Barakah. Demikian seperti dilansir situs Republika Online.
Ia yang dulu kehilangan pekerjaan, kini menjadi Presiden Persatuan Wanita Muslim Internasional. Ia berhasil melobi Kantor Pos Amerika Serikat untuk membuat perangko Idul Fitri dan berjuang agar hari raya itu menjadi hari libur nasional AS. Pengorbanan yang yang dulu diberikan Aminah demi mempertahankan Islam seakan sudah terbalas.
”Kita semua pasti mati. Saya yakin bahwa kepedihan yang saya alami mengandung berkah.”
Aminah Assilmi kini telah tiada meninggalkan semua yang dikasihinya. Termasuk putranya yang dirawat di rumah sakit, akibat kecelakaan mobil dalam perjalanan pulang dari New York untuk mengabarkan pesan tentang Islam.


tak banyak yang terjadi hanya diam di rumah setelah bangun pukul 8, setelah mentari cukup tinggi, yang membuatku menyesal tidak salat shubuh tepat waktu…argghhh…pdahal itu salah satu resolusi di hati, jangan telat salat. meski bukan karena sengaja, aku terlelap sangat usai NYE di GPD semalam, pulang pukul 2 dini hari…
dan pagi ini, seperti pagi-pagi kemarin, aku duduk di meja kerjaku dan mulai online, blog walking, post something on my blog, update status Fb or ngetwit.
tapi satu rutinitas yang bisa aku kerjakan di pagi yang masih fresh, ide-ide mengalir dahsyat, adalah menulis buku, bab baru dimulai dan aku menyukai pagi karena dengan secangkir teh hijau dan laptop yang terbuka kata terangkai dengan cepat.

dan inilah resolusi hatiku di tahun ini :
1. salat jangan telat (dipenuhi sedapatku,jika bertekad pasti bisa, buat hati lebih bening lagi )
2. berkata lebih halus pada suami dan anak-anak (wajib)
3. stop complaining anything apapun dan dimanapun
4. lebih wise melihat apapun dari sudut pandang sabar dan ikhlas
5. let it be, jadi maka jadilah apapun itu biarkan saja…
6.jangan MARAH
7.jangan DENGKI (sesekali pernah tahun ini harus tidak boleh lagi !)
8.jika banyak rejeki harus sering beri hadiah buat keluarga dan orang-orang yg baik padaku
9.lebih banyak fungsikan telinga daripada mulut
10. tidak boleh mudah percaya orang ( ini tdk boleh tapi harus krn katanya aku terlalu gampang percaya omongan orang)
that is all harus perbaiki hati dengan memulai hal ini…starting today…:)
semoga bisa kalaupun ada yang belum nggak papa, pelan-pelan saja…:)\
have a nice day…
10.

last day in 2011


hari terakhir di tahun 2011, perjalanan yang luar biasa, lengkap dengan pencapaian dan kegagalannya, jadi belajar satu hal let it flow like wind, jangan berencana, jangan bermimpi, jangan berharap banyak, kerjakan saja apa yang mampu di kerjakan, jangan memaksa, sulit karena kita manusia selalu banyak maunya tapi bukan tidak bisa.

”biarkan perahu kehidupanmu menjadi ringan, ambil hanya yang kau perlukan -rumah yang nyaman dan hiburan sederhana, satu atau dua teman dekat, seseorang yang kau cintai dan mencintaimu, seekor kucing….., satu atau dua buah pipa, pangan dan sandang secukupnya, serta air minum lebih dari cukup, sebab dahaga itu berbahaya,” Jerome Klapka Jerome.

kalimat sederhana itu aku temukan dalam sebuah buku, ia membuka mataku, jangan mendongak terlalu tinggi jangan pula menunduk terlalu dalam, just look straight couse kau bisa melihat kiri kanan tanpa kesulitan.

so aku tak punya resolusi, biar Tuhan yang menguide langkah ku menuju yang terbaik menurutNya, bukan menurutku..

Have nice day in 2011 and wellcome 2012 with simply smile…just that…

love,

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.